NANGGERANG COMMUNITY

Just another WordPress.com weblog

AKHLAK TERHADAP FLORA DAN FAUNA

leave a comment »

AKIDAH AKHLAK

Drs. Mudrik RM

Semester V/PAI 

 

 

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM KH. ABDUL KABIER (STAIKHA)

2008-2009

 

DAFTAR ISI 

 

KATA PENGANTAR   ……………………………………………………….     i

DAFTAR ISI  ………………………………………………………………….     ii

BAB I      AKHLAQ TERHADAP FLORA DAN FAUNA …………………     1

BAB II    RUANG LINGKUP AGAMA ISLAM

                 DITINJAU DARI AJARAN DASARNYA    ………..……………     3

 

BAB III   URGENSI DAN CARA BERAKHLAK

                 TERHADAP FLORA DAN FAUNA  …………………………….     5

                

KESIMPULAN  ……………………………………………………………….     9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………     11

 

 

BAB I

 AKHLAK TERHADAP FLORA DAN FAUNA

 

Selama ini, masalah akhlak ini hanya sering terfokus terhadap hubungan antar manusia saja. Padahal, akhlak terhadap lingkungan juga sangatlah penting. Kita lihat sekarang ini banyak sekali tingkah laku manusia yang tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya, misalnya dengan menebang hutan, mengubah area hutan menjadi area pemukiman, yang akan mengakibatkan pemanasan global karena hutan yang bisa digunakan untuk mengolah kadar karbondioksida di alam ini sudah mulai tiada. Dalam kasus ini, kita harus mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri saja tapi merusak lingkungan.

 

Saat ini, alam sudah sangatlah kritis. Namun, setidaknya saat ini sudah mulai bermunculan aksi-aksi untuk melakukan penghijauan kembali karena saat ini pemanasan global pengaruhnya sudah sangat terasa. Setidaknya, dengan peringatan dari Allah ini, manusia di muka bumi telah sadar dan lebih memperhatikan lingkungan hidupnya lagi. Karena pada awalnya, manusia diciptakan oleh Allah tujuannya adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi, yang tentunya juga harus dapat melestarikan bumi ini. Memang suatu saat nanti kiamat pun akan terjadi. Namun jika manusia terus bersikap merusak lingkungan seperti ini, tentunya kiamat itu sendiri akan menjadi lebih cepat karena ulah manusia itu sendiri. Setidaknya kita sebagai seorang muslim, dapat melestarikan lingkungan karena tentunya kita telah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Intinya, kita sebagai umat Islam harus sadar untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup, menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan fauna yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, dan juga kita harus sayang kepada sesama makhluk hidup.

 

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Al- Baqarah : 22

 

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. Al Baqarah : 27

 

Flora dan fauna sangatlah penting keberadaannya bagi manusia sehingga mereka sudah seharusnya dilestarikan dan dijaga kelangsungannya. Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama dan kesadaran oleh semua pihak sehingga pelestarian tersebut bukan menjadi angan-angan dan perencanaan belaka melainkan menjadi perwujudan yang nyata, sinergis dan continous (berkesinambungan) agar kemakmuran dan kesejahteraan hidup manusia dapat dirasakan oleh setiap generasinya.

 

BAB II

RUANG LINGKUP AGAMA ISLAM DITINJAU DARI

AJARAN DASARNYA

 

Ruang lingkup agama Islam ditinjau dari segi ajaran dasarnya, mencakup tiga bagian, yaitu Aqidah, Syariah dan Akhlak.

Akidah

Aqidah menurut pengertian bahasa berarti ikatan, sangkutan atau simpul, sedangkan menurut pengertian yang sebenarnya adalah kepercayaan dan keyakinan yang menyatakan bahwa Allah s.w.t. itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya. Esensi Tuhan dalam pandangan Islam, tidak mungkin dipersonifikasikan dengan segala macam benda, dengan kayu atau batu, dengan ukiran atau lukisan, bahkan tidak mungkin dapat dibayangkan dalam akal fikiran manusia. Dia Maha Esa, Maha Sempurna, Maha Absolut dan jauh dari sifat-sifat kekurangan.

Syari’at

Syari’at, pengertiannya menurut bahasa atau lughah adalah jalan, sumber air, petunjuk menuju suber air atau jalan yang harus ditempuh setiap orang. Pengertiannya secara terminologis adalah peraturan-peraturan yang ditetapkan Allah s.w.t. sebagi pedoman hidup dan kehidupan manusia. Ia merupakan the way of life bagi setiap pribadi muslim. Pengertian lebih lengkapnya, syariat adalah peraturan-peraturan yang bersumber pada wahyu Allah s.w.t. dan kesimpulan-kesimpulan yang dapat dianalisis dari wahyu itu mengenai tingkah laku manusia. Syari’at secara garis besarnya terdiri dari dua bagian, yaitu ibadah, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan seperti; shalat, shiyam, haji dan sebagainya. Kedua mu’amalah, yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya dan makhluk lain, yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, politik, peradaban dan kebudayaan.

 Akhlak

Akhlak menurut bahasa adalah perbuatan, adat, perangai, tingkah laku secara umum, baik terpuji ataupun tercela. Pengertiannya secara sosiologis di Indonesia, akhlak berarti perbuatan atau tingkah laku yang terpuji. Dengan demikian, apabila dikatakan si A berakhlak, maksudnya ia memiliki akhlak yang terpuji.

Menurut pengertian istilah, yang dimaksud dengan akhlak adalah al-akhlak al-Islamiyah atau al-akhlak al-karimah, yaitu tingkah laku, perbuatan dan perangai terpuji berdasarkan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Selanjutnya akhlak dibagi menjadi dua bagian yaitu akhlak terhadap Khalik atau Pencipta (Allah s.w.t.) dan akhlak terhadap makhluk (yang diciptakan) yaitu segala sesuatu selain Allah s.w.t. Akhlak terhadap makhluk dibagi menjadi dua bagian yaitu manusia dan selain manusia. Akhlak terhadap selain manusia dibagi tiga bagian yaitu, terhadap alam jamadi (benda mati), alam nabati (flora) dan alam hewani (fauna). Akhlak terhadap manusia dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu terhadap Nabi/Rasul, akhlak terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, masyarakat, akhlak terhadap bangsa dan hubungan antar bangsa.

 

   

 

 

Ruang Lingkup Akhlak

 

Aqidah, Syariah dan Akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak bisa diceraipisahkan, satu sama lain saling terkait dan berkelindan. Namun demikian, aqidah tetap lebih diutamakan karena ia merupakan pondasi dari keduanya.

 

BAB III

URGENSI DAN CARA BERAKHLAK

TERHADAP FLORA DAN FAUNA

 

URGENSI AKHLAK TERHADAP FLORA DAN FAUNA

Akhlak yang baik bagi sebagian besar masyarakat diterjemahkan sebagai bentuk ketaatan terhadap hukum agama yang diterjemahkan dalam ritual keagamaan seperti shalat, puasa, atau naik haji. Pandangan ini perlu diperluas, sebab akhlak yang baik tidak semata-mata sekedar menjalankan ibadah atau ritual keagamaan. Akhlak yang baik yang terbatas pada aktivitas ritual agama saja akan menjadi sempit karena menafikkan relasi manusia dengan lingkungan sebagai tempat berpijak. Akhlak yang baik yang sesungguhnya adalah akhlak yang paripurna karena sesungguhnya agama itu adalah akhlak yang baik (khusnul khuluq).

Akhlak yang baik merupakan akhlaq yang di dalamnya tercakup relasi manusia –Tuhan, relasi antarmanusia, dan relasi manusia-lingkungan. Manusia dengan lingkungan sesungguhnya terdapat relasi yang sangat erat. Manusia sangat bergantung pada alam, kerusakan alam adalah ancaman bagi eksistensi manusia. Berbeda dengan alam, alam tidak memiliki ketergantungan langsung dengan manusia meskipun rusak tidaknya alam dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam). Ar-R’adu : 25

 Faktor ketergantungan manusia terhadap alam mestinya menyadarkan manusia untuk senantiasa menjaga dan merawatnya. Cara Membangun Akhlak yang baik Lingkungan Akhlak yang baik lingkungan erat dengan akhlaq terhadap lingkungan. Akhlaq bergantung pada pengendalian hawa nafsu.

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.  Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. Al-An’am : 119

 Hal ini berarti akhlak yang baik bergantung pada bagaimana manusia mampu mengendalikan hawa nafsu untuk tidak semena-mena terhadap lingkungan. Bentuk semena-mena terhadap lingkungan dapat dapat berupa eksplorasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab, illegal logging, aktivitas yang berakibat pencemaran, dan lain-lain.

CARA MEMBANGUN AKHLAK TERHADAP FLORA FAUNA

Revitalisasi Ajaran Agama

Bentuk ajaran agama yang didominasi dogma-dogma yang sempit perlu diperluas.Kontekstualisasi agama perlu diperbanyak agar cakrawala pemikiran dan tindakan lebih luas, tidak hanya sekedar ritual keagamaan saja. Untuk pembelajaran di kelas perlu dilakukan aksi nyata dibanding pembelajaran yang menekankan aspek kognitif saja.

 Tadabbur Alam

Alam yang kita tempati sungguh eksotik. Birunya laut, gemuruh ombak, hijaunya alam dengan aneka flora dan faunanya adalah anugrah Tuhan yang tiada tara. Keeksotikan dan keindahan alam adalah modal untuk kita berfikir, merenung, dan bermuara pada aktifitas untuk memanfaatkan, mengelola, dan menjaga dengan penuh tanggung jawab.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Al-Baqarah : 164

Muhasabah dari Fenomena Alam

Panas bumi yang semakin meningkat, bencana alam yang sering kita dengar, musim yang tidak teratur, dan rusaknya lapisan ozon adalah fenomena alam yang mestinya menjadi sumber muhasabah bagi setiap individu terhadap berbagai aktifitas yang telah dilakukan selama ini. Rusaknya alam pada wilayah tertentu berdampak pada kekacauan lingkungan di seluruh permukaan bumi. Jadi dalam konteks muhasabah terhadap lingkungan tidak berfikir dan bertindak secara sempit pada wilayah lokal tempat kita tinggal, namun kesadaran atas tanggung jawab diri sebagai warga dunia.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Ruum : 41

 

Berpartisipasi dalam Program Hijau

Program hijau semakin banyak variasinya. Banyaknya acara tersebut sudah seharusnya bukan sekedar acara sensasional atau seremonial tanpa makna, namun lebih dari itu. Acara –acara tersebut perlu penghayatan, sebab aktifitas tanpa penghayatan tidak akan efektif.

Setiap individu mestinya dapat memilih dari berbagai program hijau yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik dirinya. Ibu rumah tangga dapat melaksanakan program hijau dari aktifitas di rumah tangga seperti pengelolaan sampah rumah tangga, Pak Sopir dapat berpartisipasi dengan membatasi emisi kendaraan bermotornya, pengelola super market perlu mengganti kantong plastik dengan kantong yang dapat didaur ulang, dan lain sebagainya. Jika setiap profesi melaksanakan program hijau sesuai dengan karakteristik profesi yang dijalaninya maka akhlak yang baik lingkungan akan terbentuk bermula dari akhlak yang baik profesi.

Program Reward and Punishment

Akhlak yang baik terhadap lingkungan juga dapat dibentuk melalui program reward and punishment. Pemerintah dapat memberi reward kepada siapa saja yang berprestasi dalam menjaga kelestarian lingkungan, dan program ini telah dilaksanakan. Namun program punishment terhadap siapa saja yang melakukan aktifitas yang dapat atau berpotensi merusak lingkungan belum dilakukan dengan tegas.

Bahkan yang jelas-jelas melakukan pengrusakan secara besar-besaran seringkali kasusnya mengambang dan jelas karena dikalahkan oleh agenda politik. Hukuman yang tidak tegas sangat menghambat program akhlak yang baik lingkungan. Terwujudnya akhlak yang baik terhadap lingkungan adalah modal utama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

 

DAFTAR PUSTAKA 

- Qur’an In World 2003. Quran dan terjemahnya.

- Jame’eh Syinasi (Sosiologi), Samuel Kanik, hal. 207.

- Ma’ruf Basyuni, Kabar Indonesia Tentang Kesalehan Lingkungan, Pustaka Islam Semarang 1992.

- Munawar Hakim, Akidah Akhlak SLTA, Bumi Agung 1987.

-  Yusuf Mukhtar, Materi Pokok Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka 1992.

About these ads

Written by m0chs4m

May 21, 2009 at 12:29 am

Posted in Article Agama

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: